seorang anak manusia terlahir di lingkungan "terbatas"
namun cita-citanya digantungkan "tanpa batas"
keinginannya untuk berbuat "from ZERO to HERO"
cita-citanya bukan sekedar mimpi yang tergantung di awan
kehidupannya bukan hanya terbungkus dalam lingkungan terbatas
haramkah seorang petani bermimpi untuk melahirkan seorang Dokter?
hinakah anak buruh bercita-cita menjadi Presiden?
saudaraku..., jangan pernah bunuh ketulusan mimpi dan cita-cita mereka
bukan masalah siapa Dia sekarang.... tapi lihatlah bagaimana Dia berbuat esok
hanya sebuah Doa yang mampu mengawal seorang anak manusia
dari lingkungan "terbatas" menjadi "tak berbatas" untuk meraih cita-citanya
FROM ZERO TO HERO
Senin, 08 September 2014
Rabu, 11 Desember 2013
“Membangun Jejaring dan Kewirausahaan Perpustakaan”
Seminar Nasional
“Membangun Jejaring dan Kewirausahaan
Perpustakaan”
Teatrikal UIN Sunan Kalijaga, 7
Desember 2013, 08.00-12.00
Seminar ini merupakan seminar yang
ditunggu dan diharapkan, namun keberuntungan belum berpihak untuk terlibat
langsung dalam atmosfer diskusi mengenai membangun jejaring dan kewirausahaan
pustakawan. Kuota penuh adalah jawaban panitia saat itu. Panitia seminar yang
selenggarakan oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan DIII, Fakultas Adab, UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak serta merta memutuskan harapan untuk bisa
menikmati seminar tersebut. Twiter hadir sebagai solusi. Seminar bisa diikuti
tanpa terbatas ruang dan waktu melalui LIVE TWEETE. Luar biasa…….
Pembicara seminar yang pertama
adalah Prof. Dr. Sulistyo Basuki. Beliau adalah guru besar Ilmu Perpustakaan
Universitas Indonesia.Pembicara kedua adalah Dr. A. Ridwan Siregar, M.Lib.
Beliau merupakan dosen Prodi Ilmu Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU).
Dan moderatornya adalah M. Ainul Yaqin, S.Pd, M.Pd dosen ilmu perpustakaan UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta
Sebagai pembicara, diawali oleh pak
Ridwan. Dikatakan bahwa dalam kewirausahaan yang penting adalah inovasi. Ketika
ada sesuatu yang akan diperbaiki dan memberikan hasil yang lebih baik maka
disitu akan menghasilkan inovasi. Perpustakaan adalah institusi nirlaba yang
tujuan kewirausahaannya berkaitan dengan tindakan praktik inisiatif atau
pengembangan kepemimpinan untuk memenuhi kebutuhan perpustakaan dan penggunanya
dengan cara baru yang kreatif. Porsi terbesar yang bisa dilakukan pustakawan
adalah penerapan jiwa kewirausahaan seperti halnya penerapan TQM yang juga
berasal dari dunia bisnis, dan pernah populer di lingkungan birokrasi public.
Pustakawan harus bisa membedakan antara file dan record. Tangan pustakawan adalah
tangan pengetahuan. Perbaikan yang dilakukan di perpustakaan intinya adalah
untuk melakukan tranformasi perpustakaan. Prestasi inovatif dapat dilakukan
dengan membuat kebijakan baru, menemukan peluang baru, dan membuat perubahan
structural. Banyak pustakawan yang melakukan kewirausahaan di lingkungan
perpustakaan dengan melakukan integrasi sehingga dapat berinovasi. Integrasi TI
ke dalam manajemen dapat berupa automasi ke-rumahtangga-an perpustakaan, Intitusional
Repository (IR), pengorganisasian sumber daya elektronik dan membuat konten
literasi. IR sudah dimulai sejak tahun 2000 di Universitas Sumatera Utara
(USU). Pada tahun 2002 muncullah kampanye pengguna open acess, dimana dalam dunia internasional skripsi tidak
dipandang sebagai hasil riset. Hanya tesis dan disertasi yang merupakan hasil
riset. Kewirausahaan yang dilakukan perpustakaan bukanlah kewirausahaan murni,
namun tidak mudah. Kewirausahaan murni tidak buntu, namun memiliki kontribusi
dalam kemakmuran ekonomi. Dan bila ingin berkembang, maka bangunlah jejaring.
Materi selanjutnya disampaikan oleh
Pak Sulistyo Basuki. Kerjasama perpustakaan itu perlu. Kerjasama dilakukan
karena beberapa alasan, antara lain produksi buku yang meningkat, perkembangan
pendidikan, perkembangan TI, dan tuntutan masyarakat. Terdapat beberapa macam
kerjasama, antara lain: kerjasama pengadaan, kerjasama penyimpanan buku,
kerjasama pemusatan pengadaan dan penyimpanan, kerjasama pertukaran dan
redistribusi, kerjasama pengolahan data bibliografi, kerjasama penyediaan fasilitas,
kerjasama pinjam antar perpustakaan, kerjasama antarpustakawan, kerjasama
penyusunan catalog induk, dan kerjasama pemberian jasa informasi. Dalam
praktiknya di Indonesia kerjasama pengadaan materi perpustakaan kurang
berkembang. Selain itu kerjasama penyimpanan dan pemusatan pengadaan kurang
digunakan. Sementara di Malaysia masih dilakukan kerjasama pemusatan pengadaan
dan penyimpanan.
Karena
kurangnya pemanfaatan kerjasama tersebut, banyak perpustakaan di Indonesia yang
melanggar hak cipta seperti praktek fotokopi. Kerjasama yang di lakukan di Indonesia
adalah kerjasama perpustakaan dan kerjasama antarpustakawan. Kerjasama
perpustakaan ini diwujudkan dengan adanya kartu sakti kartu cerdas, namun
pemanfaatannya belum maksimal. Perpustakaan saat ini menghadapi dilemma karena
banyaknya kesenjangan. Tujuan jaringan memang untuk menyediakan data dan
informasi bagi siapa saja. Milikilah sebanyak-banyaknya akses dengan
berjejaring.
Selamat
berjejaring dan berwirausaha…..
Seminar selesai J
PUSTAKAWAN DUA GENERASI
PUSTAKAWAN
DUA GENERASI……
Fenomena
dunia maya dengan segala kemudahannya untuk berjejaring ternyata menyentuh
semua generasi. Lucthy Giyan Sukarno dengan jiwa dan gaya mudanya menyentuh
kalangan generasi muda untuk mencintai perpustakaan dan kepustakawanan melalui
resensi buku dengan tulisannya.
Sementara Pak Blasius Sudarsono hadir dengan pemikiran dan pengalamannya
tentang perpustakaan dan kepustakawanan menyentuh semua kalangan untuk sharing pengetahuan dan pengalaman.
Dua
sosok luar biasa dan merupakan pustakawan dua generasi……
Luckty Giyan Sukarno
Dengan mengikuti aktivitasnya di dunia
maya dengan tulisan dan gaya bahasa yang digunakan, terbayanglah sosok muda
yang enerjik dan menduniakan buku. Tiada hari tanpa membaca. Membaca bukan sekedar
membaca. Membaca dengan ilmu dan hati dengan keinginan untuk selalu berbagi.
Luckty
Giyan Sukarno adalah mahasiswi lulusan Universitas Padjadjaran, Fakultas
Komunikasi Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Saat ini sedang mengabdikan
ilmunya sebagai Pustakawan Sekolah di SMA Negeri 2 Metro Lampung. Luckty Giyan
Sukarno sangat aktif menulis dan update status di jejaring social “dunia maya”.
Update status dan tulisannya merupakan
gambaran akan kecintaan terhadap perpustakaan, kepustakawanan dan pustaka. Aktivitasnya
“berselancar” di dunia maya diawali sejak tahun 2008 dan sebagian besar berupa
resensi buku. Pustakawan muda dengan sejumlah tulisannya dalam “dunia maya” ini
merupakan motivator dan gambaran pustakawan masa depan. Mungkin untuk sebagian
orang bahasa ini terlalu berlebihan tapi bagi penulis, untuk melakukan
tranformasi dan merubah citra pustakawan/ perpustakaan maka dibutuhkan banyak
“Luckty Giyan Sukarno” meskipun dengan bentuk dan kapasitas berbagi informasi yang
berbeda.
Buku dan
perpustakaan seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisah. Pustakawan
muda nan enerjik ini menggunakan kemampuannya meresensi buku untuk menarik
minat pencari informasi untuk membaca buku dan menjadikan buku serta
perpustakaan sebagai kebutuhan. Perpustakaan adalah tempat yang paling mudah
serta murah. Di perpustakaan pengguna bisa membaca banyak buku dan memperoleh
informasi tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku. Artinya,
tumbuhkan kebutuhan untuk membaca, kendala financial untuk membeli buku akan
terpecahkan dengan adanya perpustakaan yang hadir di tengah masyarakat sebagai
bagian dari kehidupan masyarakat.
Blasius
Sudarsono
Siapa yang tak kenal dengan
pustakawan senior dengan sejumlah pengalaman dan buku yang ditulis sebagai media
untuk sharing pengetahuan. Blasius
Sudarsono lahir di Solo, jawa Tengah pada Februari 1948. Beliau bekerja di
PDII-LIPI dalam jabatan fungsional Pustakawan sebelum purna tugas di
pertengahan tahun 2013 ini. Aktivitas yang dilakukan adalah melakukan studi
mandiri serta mendokumentasikan pengalaman, pengetahuan, dan pemikiran tentang
dokumentasi, informasi dan kepustakawanan Indonesia.
Jejaring social yang hadir sebagai
bagian kehidupan dunia maya tidak hanya menyentuh generasi muda. Blasius
Sudarsono mulai aktif berjejaring sejak 18 Desember 2008 dan menuru beliau
makna pertemanan di jejaring social (facebook) idealnya pertemanan yang saling
menguatkan agar kita dapat semakin bijaksana. Facebook saat ini merupakan
bagian dari kehidupan kepustakawanan Blasius Sudarsono karena dengan jejaring
ini bisa memfasilitasi layanan maya. Ketika online beliau mengibaratkan hadir
sebagai pustakawan referensi yang masuk ruang layanan referensi. Maka setiap
yang dikenal akan disapanya dengan hangat, mungkin ada yang membutuhkan layanan
referensi. Blasius Sudarsono memposisikan diri sebagai “virtual reference librarian”. Semangat berbagi dan sebagai mediator
pengetahuan ini yang menjadi motivasi. Kegalauan akan profesi pustakawan dan
perpustakaan di sebagian orang bisa teratasi dengan kehadiran beliau untuk sharing tanpa terbatas ruang dan waktu. Ketika niat untuk berbagi dan hadir sebagai
bagian dari masyarakat pengguna maka sudah tidak ada lagi kendala batas ruang
dan waktu
Belum ada kata terlambat untuk membuat
perubahan…
Dunia perpustakaan dan kepustakawanan sudah
mulai menggeliat….
“Dunia maya” merupakan tempat “perubahan”
paling efektif saat ini…
Mari berbagi…..
CYBER RELIGION
Cyber Religion….
Cyber Religion merupakan aktivitas
keagamaan yang dilakukan secara online. Aktivitas untuk melakukan komunikasi
dan dialog keagamaan dengan memanfaatkan account twiter, facebook maupun web
merupakan hal yang efektif dilakukan saat ini. Seseorang tidak terbatas ruang
dan waktu untuk berbagi informasi, belajar agama dan saling mengingatkan
tentang agama. Saat ini hanya dengan satu “klik” kita bisa bertanya apa saja
dan mengetahui apa saja. Banyak situs-situs baik yang dikelola pribadi maupun
group yang menjadi sarana komunikasi dan aktivitas keagamaan secara online. Semua
kemudahan yang ditawarkan dari Cyber Religion ini tidak terlepas dari
sisi negative bila kita tidak mampu menganalisis kejelasan content maupun
profil pengelolanya.
Dalam
menganalisis situs yang bisa dijadikan bahan rujukan diawali dengan melihat
dari sisi pengelola situs tersebut. Apakah pengelola situs anonym/ tidak?
Apakah berupa perorangan atau group? Bagaimana kapasitas dan ilmu keagamaan
yang dimiliki oleh pengelola? Selain itu, analisis bisa dilakukan dari sis content yang dimasukkan. Apakah konten
yang dikelola berupa fakta atau asumsi? Bagaimana rujukan yang dipakai? Apakah
rujukan berupa Al-Quran dan hadist yang dijadikan landasan dikutip secara
keseluruhan atau sebagian dan bagaimana penterjeahannya? Bagaimana bahasa yang
digunakan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan yang ingin dibagi dan
dirujuk?
Sebagai
salah satu bahan analisa, terdapat sebuah akun facebook “X” yang selalu update
status keagamaan. Akun ini dikelola secara perorangan. Update statusnya dilakukan dilakukan
secara berkala. Content yang
dimasukkan berupa tema-tema keagamaan dengan mengutip Al qur’an dan Hadist.
Tema yang diangkat merupakan diskusi mengenai bid’ah dan sebagian besar
merupakan kumpulan tulisan atau kutipan ceramah. Terdapat banyak dialog dan
komentar dalam setiap status yang di update
pengelola tidak hadir sebagai
pemecah atas tema yang sudah digulirkan. Bahasa yang digunakan cukup menarik
banyak komentar baik yang pro maupun kontra. Setiap status dikomentari paling
sedikit sekitar 200-an orang bahkan ada status tertentu yang sampai mencapai 820
comment. Yang disayangkan adalah dengan tingkat respon tinggi tersebut,
pengelola tidak hadir untuk meluruskan atau mempertanggung jawaban atas apa
yang sudah digulirkan ke meja diskusi. Salah tempat mencari ilmu, salah content yang diterima dan kurangnya
dasar sebagai pertimbangan untuk menerima atau menolak setiap content yang ada bisa menjadi boomerang
bagi para pencari informasi melalui dunia maya
Dengan
demikian, pustakawan sebagai mediator informasi di perpustakaan harus mampu
menganalisasumber informasi yang akan
ditawarkan kepada penggunanya sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi.
Internet dengan semua situs yang ada bagaikan dua sis mata uang bagi pengelola
informasi dan para pencari informasi. Bila tidak pandai memilah dan memilih maka
informasi yang didapatkan akan salah dan hanya berupa informasi “sampah”
Jumat, 06 Desember 2013
Pustaka kreatif "qur'aniyah"
Semua berawal dari semangat dan tak pernah ada kata terlambat...
Perpustakaan yang tertidur cukup lama sudah mulai menggeliat di akhir tahun 2013.
Tak perlu menunggu awal tahun baru untuk semangat baru.
"Perpustakaan kecil" dengan koleksi hanya 300judul & 700eks menjadi sumber pengetahuan bagi 200an pemustakanya mempunyai "mimpi besar" melahirkan "orang-orang besar".
Mari berbagi..... ilmu tak akan pernah mati dan 1 buku sangat berarti
--Pustaka kreatif qur'aniyah--
-desa batukuta-lombok barat-
Senin, 02 Desember 2013
BUKU...
Buku adalah sebuah benda mati, tetapi kehidupan terus hidup didalamnya.
Dengan buku, kau punya sarana ampuh untuk membalikkan waktu.
Karlina Leksono
Semua yang kamu butuhkan untuk meraih sukses dan masa depan yang lebih baik sudah dituliskan. Yang perlu kamu lakukan hanyalah pergi ke perpustakaan.
Jim Rohn
Cinta kepada buku bisa membawa kita kepada kebahagiaan dalam hidup.
Cinta kepada kemalasan bisa membawa kita kepada kebodohan yang nyata.
Mari mencintai buku dengan membacanya, bukan sekedar mengoleksinya
Karlina Leksono
Semua yang kamu butuhkan untuk meraih sukses dan masa depan yang lebih baik sudah dituliskan. Yang perlu kamu lakukan hanyalah pergi ke perpustakaan.
Jim Rohn
Cinta kepada buku bisa membawa kita kepada kebahagiaan dalam hidup.
Cinta kepada kemalasan bisa membawa kita kepada kebodohan yang nyata.
Mari mencintai buku dengan membacanya, bukan sekedar mengoleksinya
Perpustakaan dan masyarakat
Perpustakaan dan
masyarakat merupakan dua subjek yang saling berhubungan, mempengaruhi,
menentukan, dan saling membutuhkan. Perpustakaan dengan tugas dan
fungsinya merupakan salah satu sumber informasi dan pembelajaran bagi
masyarakat. Pada sisi lain, masyarakat dalam keseharian sering membutuhkan
ketersediaan dan layanan informasi yang dapat diperoleh diperpustakaan dengan mudah
dan cepat. Artinya, bahwa keberadaan
perpustakaan memang diinginkan, dikehendaki, dan diperlukan oleh masyarakat
tersebut. Kehidupan masyarakat yang sudah maju biasanya ditandai dengan keberadaan, perkembangan dan persebaran
perpustakaan yang cukup merata dan representatif. Kondisi tersebut sekaligus
mencerminkan suatu sistem kehidupan masyarakat yang membutuhkan ketersediaan
dan kemudahan memperoleh akses informasi. Perpustakaan merupakan salah satu
kebutuhan masyarakat yang harus dapat dipenuhi sebagaimana kebutuhan yang lain. Perpustakaan dan masyarakat memiliki hubungan kausal, yakni hubungan
sebab dan akibat. Artinya, adanya perpustakaan karena ada masyarakat yang
membutuhkan, dan keberadaan perpustakaan adalah untuk melayani masyarakat. Kiranya tidak berlebihan jika diibaratkan
bahwa antara perpustakaan dan masyarakat tersebut seperti dua sisi mata uang
yang mempunyai nilai yang sama dan tak dapat dipisahkan. Maksudnya bahwa di
mana ada masyarakat yang tinggal dengan berbagai aktivitasnya, maka di tempat
itu perlu dibangun perpustakaan.
Eksistensi perpustakaan apa
pun jenisnya dan di mana pun berada adalah untuk melayani masyarakat. Masyarakat
yang dimaksudkan di sini adalah kelompok komunitas penduduk yang membutuhkan
dan menginginkan adanya layanan perpustakaan, seperti masyarakat umum,
masyarakat sekolah, masyarakat perguruan tinggi, dan masyarakat pegawai pada
lembaga pemerintah dan nonpemerintah. Secara lebih khusus tanggung jawab
social sebuah perpustakaan adalah dalam memberikan layanan informasi kepada
masyarakat dengan memberikan kesempatan yang sama, demokratis, merata dan adil.
Langganan:
Postingan (Atom)